Mau Punya Anak yang Jago Bahasa? Pahami Dulu Konsep Ini

Punya anak yang jago berbahasa asing, siapa yang nggak mau? Apalagi kalau buah hati mampu menjadi seorang polyglot atau penutur lebih dari lima bahasa. Kalau memang anak sudah mendapatkan talenta berbahasa sejak lahir, itu menjadi kebanggaan dan rasa syukur tersendiri bagi orang tua. Tanpa perlu mengeluarkan usaha ekstra, mungkin cukup dengan mengajarkan sedikit saja, anak sudah dapat menyerap dan mempraktikkannya segera. Tapi kenyataannya, kita tidak akan dapat mengetahui si anak memiliki talenta berbahasa asing atau tidak sejak ia lahir. Yang bisa dilakukan orang tua adalah memberikan edukasi sejak usia dini.

IMG_20170715_131151_HDR
Para siswa English First (EF) Surabaya memperkenalkan diri dan menjelaskan alasan mereka menyukai bahasa Inggris dalam EF Talkshow, Sabtu 15 Juli 2017 (foto: Luana Yunaneva)

Nah, ini menjadi kabar baik sekali buat para orang tua maupun calon orang tua seperti saya. Meski belum memiliki buah hati, penting donk untuk kita membekali diri sehubungan “mau mencetak anak yang seperti apa” karena ternyata semuanya dimulai dari rumah, termasuk ketika orang tua menginginkan anak yang jago dalam bidang bahasa.

Anda pernah atau mungkin sering mendengar mitos yang mengatakan bahwa bayi harus menguasai bahasa ibu lebih dulu? Pernyataan itu dibantah oleh psikolog, Roslina Verauli dalam sebuah talkshow bertajuk “How to Help Your Kirds Learn English?”, Sabtu 15 Juli 2017 lalu. Wanita yang akrab disapa dengan Vera itu menjelaskan bahwa golden moment atau puncak keemasan perkembangan area berbahasa pada korteks otak manusia justru terjadi pada enam tahun pertamanya. Masa terbaiknya adalah setahun pertama kehidupan si kecil. Amazing kan? Berarti, mengajarkan aneka bahasa bisa dilakukan sejak bayi itu berusia nol tahun? Yups!

IMG_20170715_134456_HDR
Vera menjelaskan golden moment perkembangan area berbahasa pada korteks otak manusia (foto: Luana Yunaneva)
IMG_20170715_133415_HDR
Vera memaparkan pengenalan bahasa asing kepada anak sejak usia dini (foto: Luana Yunaneva)

Mitos lain yang ditepis wanita yang juga memandu salah satu program di televisi swasta tersebut adalah kekhawatiran orang tua perihal anaknya yang terlambat berbicara jika diajari berbahasa asing sejak dini. Dituturkannya, perkembangan kemampuan berbahasa atau fungsi wicara sangat kompleks sehingga harus melihbatkan SSP dan area berpikir, seperti interpretasi bunyi, kemampuan verbal, memori alur berpikir dan sebagainya), hingga aspek emosi dan sosial individu.

Pengenalan bahasa kepada buah hati, dijelaskan Vera, dapat dilakukan kedua orang tua sejak anak berusia nol tahun. Memutarkan lagu-lagu dalam beraneka bahasa, seperti Twinkle Twinkle Little Star dan Cublak-Cublak Suweng, tak ada salahnya jika dilakukan secara bergantian. Meski anak tak dapat langsung merespon, setidaknya ada bagian otaknya yang mereka suara-suara yang didengarnya. Tak harus menunggu anak mampu berbicara dengan lancar.

Ketika anak sudah mampu merespon sentuhan, candaan dan sapaan dengan ragam ekspresi, sebaiknya orang tua menstimulasi anak dengan hal-hal kecil, seperti mengeluarkan celotehan-celotehan. Entah itu berupa kata “apa”, “iya dek”, “kamu lihat apa?”. Jika perlu, ungkapan ringan tersebut disampaikan dalam bahasa asing. Setidaknya melalui sapaan tersebut, anak diajak untuk berkomunikasi dengan orang tua. Selain itu dengan adanya proses komunikasi yang rutin terjalin, buah hati perlahan mulai mengenal aneka kosakata baru.

Berikut ini adalah enam tahapan perkembangan berbahasa kompleks anak mulai usia nol hingga tiga tahun:

IMG_20170715_140039_HDR
Pemaparan Vera mengenai enam tahap dan tujuh modalitas perkembangan berbahasa kompleks (foto: Luana Yunaneva)

 

Lebih jauh, wanita berkulit kuning langsat itu menjelaskan perbedaan kualitas otak anak yang bilingual atau multilingual (menguasai lebih dari satu bahasa) dan monolingual (menguasai satu bahasa). Dari segi kognitif, anak bilingual memiliki performa IQ atau kecerdasan yang lebih baik dalam tes atensi, penalran analitikal pembentukan konsep, kemampuan verbal dan fleksibilitas berpikir. Dari segi sosiokultural, anak bilingual lebih handal dalam kesdaran metalinguistik, seperti memahami kesalahan dalam grammar, memahami arti dan aturan dalam percakapan untuk merespon dengan sopan, relevan dan informatif. Dengan demikian, anak bilingual memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan orang lain, bahkan dengan mereka yang memiliki latar belakang berbeda. Sementara dari sisi personal, anak bilingual memiliki kemapuan bersaing di dunia kerja saat dewasa, berkat kemampuan bahasa asing yang dimilikinya. Jadi, penguasaan bahasa asing memiliki banyak manfaat, bukan?

Ketika anak perlahan telah memiliki bekal bahasa asing sejak usia dini, penerapannya perlu dilakukan sesering mungkin, terutama di tengah keluarga, bagian terkecil dari masyarakat yang paling dekat dengan kehidujpan anak. Lalu bagaimana jika orang tua sedang sibuk bekerja atau tidak ada di rumah?

Vera mengutip pernyataan penulis, Chouinard dan Clark (2003), ketika orang tua berhalangan hadir dalam memberi stimulasi di usia dua hingga enam tahun, diperlukan adanya keterlibatan support system di sekitar anak, khususnya pembicara yang handal dalam melakukan expansions. Mengingat bahasa merupakan perilaku sosial, interaksi aktif harus terus dilakukan dengan orang-orang di sekitarnya menggunakan bahasa asing. Guru maupun orang tua bertugas untuk mendampingi proses pembelajaran tersebut.

Upaya lain yang juga dapat dilakukan adalah pembelajaran menggunakan computer dan fast mapping di usia dini. Meski anak terlihat masih berusia dua hingga enam tahun, jangan salah, kemampuan berbahassa mereka berkembang dengan sangat pesat. Bahkan mereka mampu melakukan fast mapping. Vera mengutip pernyataan Calvert Strong dan Gallagher, minat dan perhatian anak akan meningkat saat diberi kesempatan mengendalikan mouse pada computer yang memang di-setting sebagai media pembelajaran. Aneka permainan di computer diyakini efektif mengenalkan bahasa asing kepada anak.

Pengenalan bahasa asing untuk buah hati sejak usia dini ternyata juga dilakukan Brand Ambassador English First (EF) Indonesia, Donna Agnesia dan Darius Sinathrya. Itu artinya dalam kesehariannya, proses komunikasi mereka dan anak-anak dilakukan dalam dua bahasa sekaligus di rumah, yakni bahasa Indonesia dan Inggris.

“Ketiga anak kami terbiasa berkomunikasi dalam bahasa Inggris setiap hari, padahal mereka sekolah di sekolah nasional,” ujar Donna. “Sebisa mungkin kami mengajak mereka berkomunikasi dalam bahasa Inggris di rumah, bermain pun menggunakan bahasa Inggris, lama-lama akhirnya anak-anak jadi terbiasa.”

IMG_20170715_142042_HDR
Brand Ambassador EF Indonesia, Donna Agnesia dan Darius Sinathrya bergantian menceritakan pengalaman mereka saat mengenalkan bahasa asing terutama bahasa Inggris kepada ketiga anaknya (foto: Luana Yunaneva)

Kemasan pembelajaran bahasa Inggris yang menarik dan efektif bagi anak menjadi perhatian tersendiri bagi pasangan selebritis Tanah Air tersebut. Apalagi kesibukan di dunia hiburan membuat kedua kerap tidak bisa menemani buah hati untuk belajar dan bermain. Untuk itu, mereka mempercayakan pembelajaran bahasa Inggris untuk Lionel Nathan Sinathrya Kartoprawiro, Diego Andres Sinathrya dan Quinesha Sabrina Sinathrya pada EF Indonesia sejak tahun 2012.

Selain mendidik anak-anak menjadi generasi multilingual, EF menekankan kurikulum yang berfokus pada perkembangan anak secara individu. Kegiatan belajar-mengajar yang dikemas secara menarik sesuai usianya, mampu menstimulus kemampuan berbahasa Inggris, baik secara lisan, tulisan maupun pendengaran. Hal inilah yang membuat anak betah berlama-lama mempelajari bahasa Inggris dengan percaya diri sehingga berdampak pada nilai pelajaran bahasa Inggris di sekolahnya.

 

Lihat dan Konsultasikan Kebutuhan Bahasa Inggris Dulu, Baru Ambil Kelas

Pada hari yang sama, saya berkesempatan juga untuk mengunjungi EF School yang ada di lantai satu Pakuwon Trade Center (PTC), Surabaya. Tak sulit untuk menemukan lokasinya karena tempatnya yang tak jauh dari pintu masuk. Di depan pintu masuk juga langsung ada resepsionis yang siap membantu dan memberikan konsultasi kelas bahasa Inggris yang dibutuhkan. Di sebelahnya juga terdapat ruang komputer beserta instruktur yang dapat membantu pengenalan bahasa Inggris dengan teknologi. Jadi, selain belajar bahasa internasional ini, anak juga diajak untuk melek teknologi, seru kan?

IMG_20170715_161709_HDR

Course Consultant EF PTC Surabaya, Chris mengatakan, setiap sekolah EF memiliki keunikan tersendiri, sesuai target market yang ditentukan sebelumnya dan lokasi yang dipilih. Salah satu keunikan sekolah EF di PTC yang berbeda dengan sekolah-sekolah EF lainnya di Surabaya adalah adanya kitchen dan dining room. Di sini para murid dan guru EF dapat memasak (dengan pendampingan) dengan peralatan yang telah disediakan. Ruang makan juga ditata dengan cantik agar para murid betah nongkrong di sini, dengan percakapan dalam bahasa Inggris tentunya. Kalau mereka betah kan kemampuan berbahasa Inggrisnya semakin terasah.

Sistem pembelajaran bahasa Inggris di EF, tambah Chris, tak hanya dilakukan secara kognitif di kelas tetapi juga psikomotorik di area ini. Siswa mendapatkan pengajaran psikologi komunikasi melalui kehidupan sehari-hari, seperti mengucapkan “please” ketika hendak meminta tolong kepada orang lain, terutama guru. Tak hanya menjadi cerdas, dengan pengajaran informal ini anak memiliki attitude yang baik saat berinteraksi dengan orang lain di luar area EF.

Puas melihat ruangan yang apik di lantai satu, saya diajak berjalan-jalan di lantai dua yang terdiri dari banyak ruangan kaca yang merupakan kelas. Kebetulan saat itu ada beberapa kelas yang sedang digunakan. Ada kelas yang berisi sekitar 12 orang, 2 orang dan enam orang yang masing-masing didampingi satu staf pengajar.

IMG_20170715_162222_HDR

Chris menjelaskan, perbedaan jumlah siswa tersebut tergantung jenis kelas yang diikuti. Ada kelas bahas Inggris reguler di mana terdapat sejumlah level yang diikuti, sesuai kemampuan siswa. Untuk menentukan level mana yang diikuti, siswa akan diajak berkonsultasi dan dites lebih dulu. Sementara untuk kelas TOEFL dan percakapan, siswa diharapkan sudah memiliki bekal dasar bahasa Inggris yang baik karena pada kedua level tersebut, hanya tinggal latihan, latihan dan latihan secara berkesinambungan.

Mau bisa ngomong cas-cis-cus berbahasa Inggris ? Buruan aja ke EF yang ada di kota Anda segera dan ambil kelas yang dibutuhkan!

 

Kediri, 22 Juli 2017

Luana Yunaneva

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di blog pribadi ini

 

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s