[Review Film] Pirates of the Carribean: Salazar’s Revenge: Antara (Hati) yang Mati dan Tumbuh

7581_5539

Saat melihat poster film ini, satu kata yang menggambarkan pikiran saya saat itu. Penasaran. Setiap film Pirates of the Carribean selalu sukses membuat saya jadi kepo alias ingin tahu kisahnya lebih jauh. Bahkan saking suksesnya, meski beberapa film sebelumnya diputar beberapa kali di layar televisi, saya tidak pernah bosan untuk menontonnya mulai awal hingga akhir.

Film kelima Pirates of the Caribbean kali ini memiliki subjudul Salazar’s Revenge. Dari posternya saja sudah kelihatan kalau bakal ada banyak orang mati yang bermunculan, tak han.ya mereka yang hidup di alam nyata. Tak terhenti sampai di situ, melalui film ini, penonton seakan dibawa ke masa lalu – bukan untuk gagal move on melainkan untuk mengetahui siapa sajakah mereka yang terlibat dalam cerita ini, dengan berbagai kisah yang mengiring. Sebut saja para pemeran utama dalam film ini, yaitu Kapten Jack Sparrow (diperankan oleh Johnny Depp), Kapten Barbossa (diperankan oleh Geoffrey Rush), Kapten Salazar (diperankan oleh Javier Bardem), Carina Smith (diperankan oleh Kaya Scodelario) dan Henry Turner (diperankan oleh Brenton Thwaites).

Konon, mereka semua memperebutkan Trisula Poseidon, sebuah pusaka sakti yang diyakini mampu memberikan kekuatan aapun bagi pemiliknya. Langsung dirinci saja ya! Henry Turner berjuang keras mendapatkan trisula itu supaya dapat mematahkan kutukan yang dialami ayahnya akibat terikat di kapal Flying Dutchman. Carina yang sebelumnya diburu pemerintah Inggris karena dikhawatirkan ia adalah seorang penyihir, berusaha mencari Trisula Poseidon untuk mencari petunjuk mengenai sosok ayahnya. Sedangkan Jack Sparrow menginginkan pusaka tersebut untuk menyelamatkan diri. Menariknya, ketiga orang ini terus bekerja sama untuk mendapatkan barang yang sangat mereka idam-idamkan dalam hati. Meski tak bisa dipungkiri, dalam menjalankan aksinya Jack Sparrow kerap bertindak curang. Tak peduli jenis kelamin orang yang sedang dia ajak berunding.

Lalu di mana peran “tokoh utama” yang disebutkan dalam judul? Tentu saja Salazar ikut memburu trisula tersebut. Namun sebenarnya, bukan benda pusaka itu yang sesungguhnya dia cari, melainkan Jack Sparrow. Pencarian Salazar terhadap Jack Sparrow bukan tanpa alasan melainkan akibat rasa sakit hati pada masa lalu. Dirinya masih belum bisa menerima kenyataan kalau Jack Sparrow mengalahkannya di kawasan Segitiga Iblis pada masa lalu dan mengakibatkan Salazar dan seluruh awaknya benar-benar “mati”. Tak hanya mati secara fisik yang terbakar dalam lautan, namun juga hati yang mengontrol segalanya. Amarah yang menguasai Salazar pada masa lalu ternyata membuat mata hatinya mati. Salazar mengusahakan segala cara, hanya demi menghabisi Jack Sparrow. Tidak ada yang lain.

Sosok lain yang juga terlibat dalam perburuan ini adalah Kapten Barbosa, seorang bajak laut kaya yang memiliki sepuluh kapal dan puluhan kru. Ia menawatkan dirinya untuk mencari Jack Sparrow bagi Salazar, sebagai ganti aras keselamatan seluruh awak kapalnya.

Sementara itu, pihak lain yang – menurut saya – menjadi penggembira adalah pasukan Inggris. Penggembira yang saya maksud di sini adalah ketiadaan mereka dalam film ini sebenarnya tidak terlalu memberikan efek apapun pada jalannya cerita maupun emosional penonton. Ketika orang-orang di atas memburu trisula, tentara Inggris malah mengejar Henry yang berkhianat dari tentaranya, Carina yang dianggap penyihir dan Jack Sparrow. Mungkinkah pasukan Inggris memburu Jack Sparrow karena bajak laut tersebut berusaha membawa kabur brankas berisi uang dan harta karun bank setempat? Entahlah.

32453

Menurut saya, duo sutradara, Joachim Rønning dan Espen Sandberg telah berupaya mengemas film ini dengan apik. Tanpa menghilangkan sisi action-nya, film ini tetap menyelipkan kreativitas dan humor sebagai “bumbu penyedap”. Seluruh penonton Golden Theatre, bioskop tempat saya menonton di Kota Kediri, Jawa Timur tak mampu menahan tawanya ketika menyaksikan Jack Sparrow dan teman-temannya merampok bank dengan menyeret bank tersebut. Tadinya sih mereka hanya ingin mencuri brankas yang baru saja di-launching pihak bank. Namun ternyata, bank dan seisinya ikut terbawa. Apakah mereka berhasil membawa pulang seluruh hasil curian?

Sisi entertain juga berusaha dihadirkan sutradara dengan menjadikan salah seorang personil The Beatles, Paul McCartney sebagai paman Jack yang juga dipenjara di tempat yang sama. Sungguh menjadi cameo yang kocak ketika Jack dan pamannya bercengkerama dengan asyiknya ketika Jack diberondong masuk ke lembaga pemasyarakatan oleh beberapa petugas. Sesaat saya sempat berpikir, kalau pemandangan tersebut benar-benar ada di dunia, terutama Indonesia, bagaimana jadinya ya?

Di balik sisi action-nya, film The Pirates of The Carribean: Salazar’s Reveng ini menyuguhkan romantisme di sela-sela adegan. Tak melulu romantisme antara sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Kalau Henry Turner dan Carina Smith terlibat cinlok alias cinta lokasi, saya pikir, masih wajar. Namanya juga witing tresno jalaran soko kulino yang artinya lahirnya cinta berawal dari kebiassaan, jaim di antara keduanya juga masih tergolong lumrah.

Namun sisi romantisme yang saya garis bawahi di sini adalah hubungan antara seorang anak ayah dan anak perempuannya. Kalau ada peribahasa yang mengatakan bahwa kasih ibu sepanjang jalan dan kasih anak sepanjang galah, saya rasa, kasih ayah seluas samudera. Setidaknya itulah sisi lain yang ditawarkan melalui film ini ketika Kapten Barbossa yang digambarkan berupaya menjaga harta miliknya dengan berbagai cara, ternyata dia merelakan nyawanya demi keselamatan Carina yang tak pernah dijumpainya sejak usia kanak-kanak. Begitupun Carina, akhirnya dia dapat merasakan dan melihat langsung sosok yang dicarinya selama ini melalui sebuah jurnal, meski hanya sesaat. Bagian ini menjadi favorit dan perenungan saya dalam film ini, yakni sisi lain dari sebuah perjalanan Kapten Jack Sparrow.

Kisah kasih ayah dan anak yang tak terungkap dan tak terkatakan ini pun akhirnya benar-benar meniadakan hati yang mati dari sosok Salazar. Hal ini mengingatkan saya pada lirik sebuah lagu yang tertulis demikian, “Kasih itu sabar, murah hati, percaya, tak angkuh dan tak dengki. Kasih itu tak memegahkan diri. Kasih itu kekal serta abadi”.

Menurut saya, film ini cocok untuk menghabiskan waktu di akhir pekan, terutama bagi Anda dan kamu pecinta film. Baru launching pada Rabu 24 Mei 2017 lalu, tentu masih ada cukup banyak waktu untuk menikmati film franchise nan legendaris ini bersama orang-orang terkasih.

Kalau nggak ada yang terkasih, gimana donk?

Yakin nggak ada? Hayooo, fokus! Kan saya bilangnya orang-orang terkasih. Kan nggak harus pasangan. Bisa sahabat, kakak, adik, sepupu, kakak, ibu, semuanya!

Penasaran dengan trailer-nya? Check this out!

 

Met weekend, semuanya!

Kediri, 26 Mei 2017

Luana Yunaneva

Tulisan di atas pertama kali dipublikasikan di blog ini, selanjutnya di-post untuk akun Kompasiana milik penulis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s