Lomba Mencari Telur Harus Ada Saat Paskah?

Ketika hendak merayakan Paskah, biasanya umat Kristiani sudah menyiapkan berbagai rangkaian acara sejak jauh-jauh hari, bahkan bulan sebelumnya. Kemasan acara sengaja dibuat semenarik mungkin agar dapat dinikmati jemaat secara bersama-sama. Salah satu konsep acara yang dapat digunakan adalah permainan di alam terbuka.

IMG_6384

Hal ini dilakukan jemaat Gereja Baptis Indonesia (GBI) Karunia, Kediri, Jawa Timur pada Jumat 14 April 2017. Pada hari Paskah kali ini, pihak sekolah Minggu gereja ini merayakannya di Wisma Hening Santo Yohanes, Desa Pohsarang, Kabupaten Kediri. Diikuti sekitar 45 anak serta sekitar 30 orang tua dan pengantar, kegiatan diawali dengan menyanyi bersama dan mendengarkan cerita Alkitab tentang kebangkitan Yesus Kristus.

Lalu, tibalah saat yang dinantikan anak-anak tersebut, yakni sesi permainan. Keceriaan para bocah yang berusia mulai balita hingga pelajar kelas tiga sekolah menengah atas (SMA) itu tampak ketika mereka harus berlarian dan berebut bola bersama ketiga tim yang sebelumnya telah dibagi.

Antusiasme tak dapat terelakkan ketika mereka akan memasuki lomba mencari telur. Panitia telah menyiapkan 14 butir telur yang telah disembunyikan di beberapa titik. Ada yang disembunyikan di rerumputan, pepohonan, kendaraan bermotor milik panitia yang diparkir di sekitar lokasi dan sebagainya. Rasa lelah berkeliling area seakan hilang, ketika anak-anak itu berhasil menemukan telur yang diperebutkan sekitar 45 anak tersebut.

Berbicara tentang lomba mencari telur, saya teringat bahwa permainan ini jarang absen pada peringatan Paskah, terutama bagi anak-anak sekolah Minggu. Setidaknya ketika masih kecil, saya selalu mengikuti kegiatan ini, entah di gereja maupun sekolah.

Gembala Sidang GBI Karunia Kediri, Pdt. Ed Merdhiriawan, S.K.H., M.A. mengatakan, bahwa lomba mencari telur tidak diwajibkan dalam perayaan Paskah. Pun pengadaan telur itu sendiri sebagai bingkisan untuk dibawa pulang jemaat. Namun ia mengatakan bahwa ada makna tersirat dari umat Kristiani yang menggunakan telur sebagai salah satu lambang dalam momentum Paskah. Dituturkannya, telur merupakan lambang sebuah kehidupan.

145130_telurkuning460ts

“Ketika telur ini pecah karena mendapatkan tekanan dari luar, tentu menjadi rusak. Sebaliknya, jika telur pecah karena mendapat tekanan dari dalam, ini merupakan hal yang baik di mana ada kehidupan.”

Ia melanjutkan bahwa kelahiran makhluk hidup baru melalui telur tersebut ibarat Yesus yang rela mati demi menebus manusia dari dosa.

“Ketika Yesus rela disalibkan dan bangkit dari kubur pada hari yang ketiga, yakni Minggu Paskah, ini merupakan momen kelahiran baru. Manusia menjadi “sosok” yang baru karena dosanya telah ditebuskan melalui darah Yesus.”

093357_istock_000057146318_small

Telur hanyalah sebuah lambang, bukan sesuatu yang dianggap sakral dan krusial. Dengan demikian, lomba mencari dan menghias telur pun bukanlah hal utama dalam perayaan Paskah karena yang menjadi fokus dalam peringatan ini adalah mengenang Yesus yang mati disalib dan bangkit demi menebus dosa manusia.

Selamat Paskah bagi Anda yang merayakannya. Damai di hati, damai di bumi. Tuhan memberkati.

Kediri, 16 April 2017

Luana Yunaneva

Tulisan di atas pertama kali dipublikasikan di blog ini, selanjutnya diposting ulang di Kompasiana

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s