[Review Film] Beauty and The Beast (2017): Beda Versi Namun Menginspirasi

“Beauty and The Beast”, siapa sih yang tak pernah mendengar judul film tersebut, meski baru sekali? Kisah legendaris itu sering menjadi bahan cerita untuk mendongengi anak-anak sehingga sosok si cantik dan buruk rupa bukanlah pribadi yang asing di benak anak-anak hingga orang dewasa.

Setelah dongeng “Beauty and the Beast” difilmkan pada tahun 1990-an dan 2014, Disney tertarik pula untuk membuat film serupa, dengan judul yang sama. Yang membedakan dengan film yang diluncurkan pada tiga tahun sebelumnya adalah bahasa yang digunakan danproduction house. Kali ini, PH-nya adalah Disney. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris, sedangkan bahasa pada film sebelumnya yakni “La Belle etLa Bête”  adalah bahasa Perancis. Terkenal dengan produksi film-film animasi ternama sebelumnya, tak heran Disney membuat para penikmat film penasaran dengan hasilnya, bahkan sejak beberapa bulan sebelum dirilis.

Jumat malam 17 Maret 2017 saya berkesempatan menonton film “Beauty and The Beast” di Golden Theatre, Kota Kediri, Jawa Timur. Meski di kota ini tak ada bioskop ternama seperti 21, XXI dan Blitz Cineplex layaknya kota-kota besar di Tanah Air, untung pemutaran film legendaris tersebut di kota domisili saya saat ini nggak telat-telat amat. Malah bersamaan dengan Cinema 21 dan XXI.

WhatsApp Image 2017-03-18 at 16.09.23

Ternyata antusiasme warga Kota Kediri untuk menonton film ini cukup besar juga. Terbukti dengan studio yang ramai terisi penonton. Meski ketika saya memesan tiket sekitar satu jam sebelum pemutaran film, daftar bangku yang ditunjukkan kasir masih dominan dengan warna hijau alias banyak tempat duduk yang kosong. Ramainya jumlah penonton baru tampak sekitar 15 menit jelang film diputar.

WhatsApp Image 2017-03-20 at 22.57.27

Dari segi jalannya cerita, tak terlalu sulit untuk memahami alurnya karena “Beauty and the Beast” bukanlah kisah baru. Namun, tentunya ada perbedaan antara film yang baru diluncurkan ini dengan film keluaran terakhir dengan judul yang sama, termasuk pada bagian awal film yang semat membuat saya bingung.

Film ini mengisahkan seorang gadis bernama Belle yang hidup dan bertumbuh di Perancis. Nama pemeran utama yang diperankan oleh Emma Watson ini saja sudah menggunakan bahasa Perancis yang berarti cantik. Belum lagi, para warga desa setempat yang saling bertegur sapa menggunakan bahasa Perancis, yakni bonjour yang artinya halo. Sapaan pun memakai bahasa yang sama, antara lain madame (nyonya), mademoiselle (nona) dan père (ayah). Namun lucunya, mereka melanjutkan percakapan menggunakan bahasa Inggris. Sementara menurut budaya dan sejarahnya, sebagian besar orang Perancis keukeuh menggunakan bahasa resmi negaranya dan sangat anti menggunakan bahasa Inggris.

Namun kebingungan saya ini cukup terobati berkat kreativitas sutradara yang mengemas film tersebut dalam format drama musikal. Lagu-lagu yang ditampilkan mampu mendukung suasana yang tengah dialami para pemain, dilengkapi dengan koreografi yang sudah pas, menurut saya. Tak ketinggalan, ekspresi para pemain yang natural seakan mengajak penikmat film mengikuti setiap gerakan mereka. Saya pun secara tak sadar menggoyangkan kepala ke kanan dan kiri, serta mengetukkan kaki sesuai tempo, lantaran menikmati paket musikal tersebut.

Sebaga penonton, saya tak hanya dipuaskan dari segi akting para pemain yang bagus, beragam kostum yang menyesuaikan pada masa itu, serta penampilan mereka yang cantik dan ganteng, tetapi juga grafis yang memukau. Seperti biasanya, Disney mampu menciptakan apapun yang selama ini hanya ada di alam imajinasi, menjadi nyata sehingga nyaris tak ada gap antara dunia khayalan dan dunia nyata yang diperankan oleh manusia asli.

ad_230067822

Terlepas dari film yang diluncurkan sebelumnya, ada hal-hal menarik yang bisa saya catat berdasarkan film produksi Disney ini. Film itu menggambarkan sosok Belle, gadis yang gemar membaca, berpetualang dan mencoba hal baru. Aktivitas favorit gadis berambut panjang ini tergolong langka karena ia tinggal di sebuah desa yang kecil bersama para penduduk yang berpikir kolot. Tak heran kalau Belle sering mengalami penolakan dan pandangan sebelah mata karenanya. Semangat gadis itu untuk belajar dan berinovasi tak menghentikan mimpinya untuk berkeliling dunia. Setidaknya saat ini, jalan yang bisa ditempuhnya untuk “menguasai dunia” adalah membaca buku.

Namun seiring berjalannya waktu, ia tak hanya mempelajari tentang dunia, tetapi juga cinta.

Pertama, cinta kepada sang ayah dengan rela hati menggantikan hukuman akibat mengambil sekuntum bunga mawar merah pesanannya, berupa dipenjara di istana milik pangeran buruk rupa yang diperankan oleh Dan Stevens.

Kedua, belajar merawat Beast yang terkapar akibat menyelamatkannya dari sekumpulan serigala saat ia mencoba kabur. Ternyata, ketulusannya menjaga dan mengobati Beast dari rasa sakit membuatnya mengerti bahwa Beast bukanlah makhluk yang jahat. Beast ternyata memiliki perpustakaan dengan banyak koleksi buku. Baginya, jarang ada orang yang mempunyai minat baca yang tinggi, apalagi pada masa itu.

Kebersamaan keduanya selama masa pemulihan Beast, membuat mereka menjalani proses kehidupan dengan berbagi. Menurut saya, ini merupakan sebuah proses jatuh cinta yang natural dan jujur adanya. Tanpa adanya pencitraan atau kepura-puraan.

Beauty and the Beast

Di luar konteks asmara, terdapat sebuah proses pembelajaran lain yang saya petik di sini. Sempat berdiskusi dengan rekan sehubungan film “Beauty and the Beast”, kami sama-sama belajar bahwa jika seseorang tidak dapat mengetahui dan mempelajari apa yang dialaminya pada masa lalu, ia tidak akan bisa menjalani kehidupannya yang sekarang dan akan datang.

Setiap orang memiliki banyak kisah dan pengalaman pada masa lalu. Hal inilah yang memberikan pengaruh pada kehidupan yang dijalaninya pada saat ini dan nanti. Manusia dengan segala hal kompleks yang dialaminya akan menentukan “masa antara”, yakni di antara masa lalu, masa kini dan masa depan. Yang bisa dilakukan adalah menjalaninya dengan jujur. Setidaknya jujur pada diri sendiri.

Kediri, 20 Maret 2017

Luana Yunaneva

Tulisan ini dipublikasikan untuk pertama kalinya di blog pribadi, selanjutnya di-posting untuk akun Kompasiana penulis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s