Sosok yang Hidup untuk Radio dan Jazz di Perancis ini Akhirnya Tiada

 ]Para pecinta radio dan penggemar musik jazz di Perancis berduka lantaran kehilangan penyiar legendaris, Pierre Bouteiller, antara Kamis malam 9 Maret 2017 hingga Jumat 10 Maret 2017 waktu Paris. Pria kelahiran Angers, 22 Desember 1934 tersebut mengembuskan napas terakhirnya pada usia 82 tahun. Demikian disampaikan mantan pimpinannya di media Perancis, France Inter.

Terakhir kali bekerja di sana, ia membawakan program “Quoi Qu’il En Soit” atau “Anyway” dalam bahasa Inggris pada 2 April 1999 lalu. Selanjutnya, ia bekerja untuk TSF Jazz selama dua tahun.

Mengutip situs Europe1, Pierre telah menghabiskan lebih dari setengah abad untuk berkarya dari balik sebuah mikrofon. Mengawali karier sebagai wartawan, ia menjadi seorang animator. Lalu, ia mengabdikan hidupnya di dunia radio, terlepas dari tugas singkanya dalam program televisi TF1 pada tahun 1981 hingga 1982.

maxresdefault

Ia memiliki masa kecil cukup lama di radio, mengingat saat itu merupakan eranya audio. Pierre lebih memilih mengandalkan ingatannya, terutama pada telinga yang tidak biasa tetapi cukup baginya untuk mendengarkan suatu dan bereproduksi dengan cukup loyal.

Kepekaan kemampuan mendengarn Pierre tidak hanya dibuktikan melalui profesinya sebagai penyiar radio, tetapi juga sebagai pemain piano. Ia bahkan dikenal sebagai pianis yang luar biasa lantaran mampu memainkan komposisi-komposisi standar pada musik pop dan jazz.

Mengutip situs berita Le Figaro, tahun 1955, ia mulai masuk ke Sorbonne untuk mempelajari studi Psikologi. Namun, hal ini tak mengurangi kecintaannya pada kelompok jazz kecil di klub latin Quatier, apalagi ia memiliki minat yang besar pada program jazz yang dibawakan Frank Ténot dan Daniel Filipacch yang diputar setiap malam di Radio Europe 1.

Lalu ia menawarkan sebuah program bernama “Embouteillages” atau “Kemacetan” kepada pimpinan France Inter pada tahun 1969. Ternyata program yang diajukannya diterima dan ia berkarya di sana secara permanen.

i05052930

Tahun 1989 hingga 1996, ia menjadi direktur program di stasiun tersebut. Tahun 1999 hingga 2004 ia menjadi Direktur Musik dari France Musiques.

Namun pada musim semi tahun 2004, ia pensiun pada masa jabatan CEO Radio Frantuk media ce, Jean-Paul Cluzel. Meski begitu, ia tetapi berkarya di balik mikrofon untuk TSF Jazz. Di media tersebut, ia dipercaya sebagai host untuk sebuah program harian dan dua mingguan yang memang dikhususkan untuk musik jazz, yakni “Si Bémol et Fadaises” atau “Jika Akor B Mol dan Omong Kosong”.

Media Liberation mencatat, Pierre memiliki “musik”-nya sendiri, yakni melalui sapaan “hallo”-nya yang acuh tak acuh dan ramah yang ia lontarkan saat menyapa para pendengarnya. Bagi Pierre, musik adalah hidupnya. Ia akan selalu mendengarnya tanpa henti, selalu mengeplorasi dan memainkannya tanpa membatasi diri.

Kritikus film Perancis, Gerard Lefort memuji Pierre sebagai orang yang baik dan jujur pada abad ke-18. Ia juga mengapresiasi Pierre yang menghabiskan masa tuanya sebagai orang Perancis, juga mengenangnya sebagai seorang mentor yang prduli, terutama pada budaya-budaya klasik.

“Dia mencintai radio yang bebas, selalu mengawasi apapun yang tidak ia ketahui,” pungkasnya.

Kediri, 11 Maret 2017

Luana Yunaneva

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di blog pribadi ini, selanjutnya diposting di akun Kompasiana penulis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s