Indahnya Harmonisasi dan Filosofi dalam Musik Kamar

Kamar merupakan tempat yang sangat nyaman bagi pemiliknya. Tak peduli seberapa luas atau sempitnya nya ruangan tersebut, sang penghuni pasti merasa tenang saat berada di dalamnya. Entah untuk beristirahat, mengerjakan tugas, hingga meluapkan ekspresi, baik suka maupun duka melalui karya.

Dalam bentuk tulisan, misalnya. Terbatasnya jumlah orang yang bisa masuk ke dalam kamar, membuat pemiliknya lebih leluasa menjadi dirinya sendiri. Tak heran, kalau hanya di dalam kamarlah, kita dapat menempelkan tulisan-tulisan yang memotivasi dan foto-foto orang-orang terkasih dalam beragam pigura di dinding. Lebih jauh, kamarlah yang menjadi saksi bisu kalau selama ini kita mencoretkan perjalanan hidup di dalamnya.

visionboard1-850x675

Suasana yang intim di dalam kamar ternyata tidak hanya memberikan inspirasi untuk menulis, tetapi juga bermusik. Inilah tema yang diangkat sebuah simfoni orkestra profesional yang menjadi tonggak standar bermusik instrumen di Bandung, Bandung Philharmonic dalam konser bertajuk “Seri Musik Kamar: Wind”.

“Serunya bermain ensembel musik kamar itu, kami bisa saling mengenal secara intens, mengingat jumlah kami hanya berlima. Berbeda dengan orkestra pada umumnya,” pemain flute, Astri Kinanti Putri memperkenalkan sebelum konser dimulai. “Keintiman ini nggak cuma di musik tapi kami menjadi tahu kebiasaan masing-masing. Makanya, bermain musik kamar menjadi lebih menyenangkan.”

Bertempat di Institut Français Indonesia (IFI) Bandung, Senin malam 9 Januari 2017, enam musisi siap beraksi dengan “senjatanya” masing-masing. Mereka di antaranya Leyla Zamora (bassoon), Airin Efferin (piano), Astri Kinanti Putri (flute), Afdhal Zikri Z.Z. (oboe), Fajar (french horn) dan Alfian Agus N (klarinet).

whatsapp-image-2017-01-11-at-00-04-40-1
Lima musisi Bandung Philharmonic yang tampil pada sesi pertama Seri Musik Kamar “Wind” (dokpri) 
whatsapp-image-2017-01-11-at-00-04-40-2
Dua musisi yang tampil pada sesi kedua Seri Musik Kamar “Wind”

Penampilan mereka pun dibagi menjadi dua sesi. Pertama, permainan alat musik tiup, yakni flute, oboe, french horn dan klarinet. Kedua, kolaborasi piano dan bassoon.

Permainan ensembel pada konser ini memperkuat identitas Bandung Philharmonic dengan menyajikan karya yang bervariasi, mulai masterpiece musik klasik sampai karya para komponis Tanah Air.

Para musisi pada sesi pertama membawakan enam buah lagu, di antaranya Minuet, Bourree (Blas Maria de Colomer), Pastoral (Gabriel Pierne), Passacaille (Adrien Barthe), Le Petit Negre (Claude Debussy) dan Mosaik (Fauzie Wiriadisastra).

Lagu terakhir yang mereka bawakan, Mosaik, mendapatkan antusiasme luar biasa dari para penonton. Berbeda dengan kelima lagu sebelumnya, komposisi ini merupakan perpaduan 20-an lagu nasional dan daerah. Ada yang dimainkan secara bersamaan, pun bersahutan. Lagu-lagu yang memiliki nada dan karakteristik berbeda, ternyata menciptakan harmonisasi yang seakan menyihir para pengunjung yang hadir.

“Lagu-lagu itu dibawakan alat tiup yang berbeda, dengan karakteristiknya yang berbeda pula. Komposisi ini sekaligus menolong para penonton yang mungkin selama ini sulit membedakan alat-alat musik yang dimainkan dalam orkestra, apa bedanya oboe, flute, french horn, klarinet dan sebagainya,” jelas komposer, Fauzie. “Soalnya dalam ensembel ini, hanya ada lima pemain. Jadi, penonton bisa menyimak perbedaan setiap jenis alat musik tiup, dibandingkan saat menonton konser dalam bentuk orkestra. Kan ada banyak sekali instrumen di dalamnya.”

whatsapp-image-2017-01-11-at-00-04-40-3
Komposer, Fauzie Wiriadisastra menjelaskan tentang komposisinya, Mosaik (dokpri)

Lebih jauh ia mengungkapkan, perbedaan setiap instumen ini sama halnya dengan lagu-lagu dari barat hingga timur Indonesia yang dibawakan. Setiap instrumen memiliki karakteristik dan kekutan masing-masing. Pun setiap daerah di Tanah Air memiliki budaya dan kekhasannya sendiri. Ketika keberagaman itu disatukan, semuanya akan menjadi indah, termasuk ketika seluruh alat musik tiup dimainkan bersama lagu-lagu kebangsaan dan daerah dari Sabang hingga Merauke. Penasaran dengan penampilan mereka? Ini dia videonya!

Sementara itu, kedua musisi pada sesi kedua membawakan lima buah lagu, antara lain Habanera (Maurice Ravel), Morceau de Salon (Eugene Bourdeau), Piece (Gabriel Faure), Vals Venezolano dan Contradanza (Paquito D’Rivera). Ulasan pada sesi ini akan saya bagikan pada tulisan berikutnya.

whatsapp-image-2017-01-11-at-00-04-40-5
Direktur IFI Bandung, Melanie Martini memberikan apresiasi kepada para musisi yang tergabung dalam Bandung Philharmonic (dokpri)

Kreativitas orkestra ini juga mendapatkan apresiasi dari Direktur Institut Français Indonesia (IFI) Bandung, Melanie Martini saat membuka pertunjukan. Ia juga mengajak para penonton untuk mendukung generasi muda ini melalui jalur musik klasik.

Berikut ini adalah video rangkaian konser Seri Musik Kamar “Wind”, persembahan dari Bandung Philharmonic.

 

Bandung, 10 Januari 2017

Luana Yunaneva

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di blog ini.

Selanjutnya, dipublikasikan di akun Kompasiana penulis

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s