Lewat Lagu Ini, 44 Musisi Perancis ini Perangi AIDS

 

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, sejak penyakit AIDS ditemukan hingga akhir tahun 2014, virus ini telah menyebabkan 34 juta orang meregang nyawa. Tahun 2014 saja, tercatat 1,2 juta orang meninggal dunia karenanya. Yang menarik, peperangan melawan penyakit berbahaya itu ternyata tidak hanya dilakukan para dokter, peneliti dan aktivis kesehatan, tetapi juga para pelaku industri musik, seperti penyanyi, produser dan penulis lagu.

Kreativitas ini dilakukan melalui sebuah lagu berbahasa Perancis yang berjudul “Sa Raison d’Être” atau “Alasan Menjadi”. Lagu itu ditulis oleh Lionel Lionel Florence dan diaransemen oleh Pascal Obispo. Diluncurkan tahun 1998, komposisi itu diluncurkan untuk mengumpulkan dana bagi asosiasi yang didedikasikan untuk penelitian dan usaha melawan melawan AIDS di Perancis, Sidaction.

Mengutip Overblog, selain dua musisi di atas, sebanyak 42 musisi terbesar pada akhir tahun 1990-an mendukung ide bagus ini. Salah satunya Anggun C. Sasmi, penyanyi asal Indonesia yang kini menjadi warga negara Perancis.

Musisi lain yang bergabung, antara lain Florent Pagny, Stéphan Eicher, Patrick Bruel, Native, Maurane, Marc Lavoine, Dominique Dalcan, Ophélie Winter, Gérald de Palmas, Teri Moïse, Tribal Jam, Francis Cabrel, Elsa, Zazie, Johnny Hallyday, Patricia Kaas, Jean-Jacques Goldman, Lara Fabian, Eddy Mitchell, Princess Erika, Julien Clerc, Hélène Ségara, Johnny Hallyday, Catherine Ringer, Pascal Obispo, Faudel, Maxime le Forestier, Axelle Red, Alain Chamfort, Alain Souchon, Jane Birkin, Axelle Renoir, Kent, Enzo Enzo, Michel Fugain, Michel Delpech, Françoise Hardy, Maxime le Forestier, Laurent Voulzy, Etienne Daho dan Ellie Medeiros. Jumlah yang luar biasa, bukan? Tentu tidak mudah untuk mampu menggalang dukungan sebanyak ini.

Sampul depan album Ensemble (sumber: http://www.obispoonline.com/html/msidaction.php)

Lagu ini tidak berbicara mengenai AIDS secara langsung. Maklum, ini adalah pembahasan yang sensitif bagi penderita dan keluarganya. Sepertinya, Lionel Florence tidak ingin mengintimidasi para penderita dengan lirik yang semakin melukai perasaan mereka. Oleh karena itu, dari judul pun, ia sengaja memilih “Alasan Menjadi” yang dianggap lebih halus.

Lionel Florence banyak menuliskan kata-kata yang membangkitkan semangat di lirik lagunya. Bahasa Perancis yang kerap menggunakan bahasa kias, membuat lagu puitis. Terutama bagi orang Indonesia. Mengutip paroles.net, ini dia lirik lagu “Sa Raison d’Être”, beserta para penyanyi yang membawakannya.

Elle en a vu de toutes les couleurs (Florent Pagny)
Elle est revenue de tant de combats (Stephan Eicher)
Elle a tellement tendu son cœur (Patrick Bruel)
Là où d’autres ont baissé les bras (Native)
Elle dit qu’après certains regards (Maurane)
Les mots deviennent dérisoires (Marc Lavoine)
On fait des choses parce qu’elles s’imposent (Dominique Dalcan)
Sans se demander pourquoi (Michel Delpech)

C’est peut-être (Ophélie Winter)
Oh peut-être (Gérald de Palmas)
Une goutte dans la mer (Teri Moise)
C’est peut-être (Gérald de Palmas, Ophélie Winter)
Oui peut-être (Anggun)
Une goutte dans le désert (Tribal Jam)
Oui mais c’est sa raison d’être (Francis Cabrel)
Sa raison d’être (Elsa)
Sa raison d’être (Marc Lavoine)
Sa raison d’être (Zazie)

Oh, elle en a essuyé des yeux (Johnny)
Elle en a baissé des paupières (Patricia Kaas)
Oubliant même que le ciel est bleu (Jean-Jacques Goldman)
A tant se pencher dans la poussière (Lara Fabian)
Elle dit qu’on peut toujours trouver (Eddy Mitchell)
Des excuses pour ne pas bouger (Princess Erika)
Elle, elle préfère encore se taire (Julien Clerc)
Et faire ce qu’elle a à faire (Hélène Segara)

C’est peut-être (Johnny)
Oh peut-être (Eddy Mitchell)
Une goutte dans la mer (Catherine Ringer)
C’est peut-être (Johnny)
Une goutte dans le désert (Native)
Oui mais c’est sa raison d’être (Johnny)
Oui sa raison d’être (Eddy Mitchell)
Oui mais c’est sa raison d’être (Pascal Obispo)
Oui sa raison d’être (Patricia Kaas)
Sa raison d’être (Stephan Eicher)
Sa raison d’être (Zazie) Sa raison d’être (Florent Pagny)

Oh, elle a brisé des silences (Maxime Leforestier)
Poussé des cris contre des murs (Axelle Red)
Avec pour écho l’indifférence (Alain Chamfort)
Et des rancunes encore plus dures (Alain Souchon)
Car aujourd’hui, si l’existence ici (Jane Birkin)
Ne se limite qu’à la survie (Axelle Renoir)
Il faut savoir qu’une aile de papillon (Kent)
Peut tout changer pour de bon (Enzo Enzo)

C’est peut-être (Julien Clerc, Axelle Renoir)
Oui peut-être (Elsa)
Une goutte dans la mer (Dominique Dalcan)
C’est peut-être (Michel Fugain, Princess Erika)
Oui peut-être (Michel Delpech)
Une goutte dans le désert (Anggun)
C’est peut-être, c’est peut-être, (Françoise Hardy, Maxime Leforestier)
Une goutte dans la mer (Françoise Hardy, Maxime Leforestier)
C’est peut-être une goutte dans le désert (Laurent Voulzy)
Oui mais c’est sa raison d’être (Pascal Obispo)
Sa raison d’être (Alain Chamfort)
Sa raison d’être (Lara Fabian)
(Ophélie Winter, Juien Clerc, Axelle Renoir, Michel Fugain, Alain Souchon, Étienne Daho, Catherine Ringer, Florent Pagny, Patrick Bruel, Elli Medeiros, Maurane, Jane Birkin, Jean-Jacques Goldman, Anggun, Faudel)
Sa raison d’être (Line Renaud)

 

Saya mencoba menerjemahkan lirik tersebut dalam bahasa Indonesia.

Dia telah melihat semua warna
Dia kembali begitu banyak pertarungn
Dia telah begitu tegang hatinya
Di sana, ketika orang lain sudah menyerah
Dia mengatakan bahwa setelah beberapa penampilan
Kata-kata menjadi konyol
Kami melakukan sesuatu karena mereka dibutuhkan
Tanpa mempertanyakan, mengapa

Itu mungkin
Oh mungkin
Sebuah penurunan di laut
Itu mungkin
Ya mungkin
Sebuah penurunan di padang gurun
Ya tapi itu alasannya menjadi
Alasannya menjadi
Alasannya menjadi
Alasannya menjadi

Oh, dia menyeka mata
Dia menjatuhkan kelopak matanya
Bahkan lupa bahwa langit berwarna biru
Sehingga terlihat dalam debu
Dia mengatakan bahwa kami dapat menemukan
Permintaan maaf untuk tidak bergerak
Dia, dia masih lebih suka diam
Dan melakukan apa yang mau dia lakukan

Itu mungkin
Oh mungkin
Sebuah penurunan di laut
Itu mungkin
Ya mungkin
Sebuah penurunan di padang gurun
Ya tapi itu alasannya menjadi
Alasannya menjadi
Alasannya menjadi
Alasannya menjadi

Oh, dia memecah kesunyian
Menjeritlah dia kedinding
Dengan gema ketidakpedulian
Dan dendam yang lebih keras
Karena hari ini, jika eksistensi ada sini
Tidak ada keterbatasan untuk terus bertahan
Anda harus tahu bahwa sayap kupu-kupu
Dapat mengubah segalanya untuk kebaikan

Itu mungkin
Oh mungkin
Sebuah penurunan di laut
Itu mungkin
Ya mungkin
Sebuah penurunan di padang gurun
Itu mungkin, itu mungkin
Sebuah penurunan di laut
Itu mungkin sebuah penurunan di padang gurun
Alasannya menjadi
Alasannya menjadi
Alasannya menjadi

Logo Sidaction: Bersama Melawan AIDS (sumber: http://www.fondation-pb-ysl.net/medias/images/logo_sidaction.jpg)

Kepedulian tidak hanya disampaikan Lionel Florence melalui lirik, tetapi simbol pita merah kecil di sampul album yang bertajuk “Ensemble” atau “Bersama” itu. Peletakan simbol tersebut untuk menginformasikan kepada banyak orang bahwa ketika mereka bersedia membeli album “Ensemble”, itu artinya mereka sudah melakukan sebuah kebaikan untuk aksi kemanusiaan yang tak lain adalah memerangi AIDS.

Selain lagu berjudul “Sa Raison d’Être”, terdapat 13 lagu lain yang terdapat dalam album tersebut. Para musisi menyanyikan cover sejumlah lagu Perancis yang terkenal, seperti La Vie en Rose, L’Amour Existe Encore dan Demain. Ada yang membawakannya secara solo, maupun duet.

Sampul bagian belakang album Ensemble (sumber: http://www.obispoonline.com/html/divers/ensemble02.jpg)

Berkat promosi  gencar yang dilakukan di berbagai stasiun televisi dan radio, perjuangan para musisi melalui lagu ini membuahkan hasil yang manis. Sidaction melaporkan, album ini terjual lebih dari 700 ribu copy dan mencatat penjualan mencapai 45 juta franc (7,5 juta euro).

Tahun 2000, Pascal Obispo kembali berkarya. Penyanyi asal Perancis sekaligus aktivis AIDS, Line Renaud mengajaknya menulis sebuah lagu baru untuk mengumpulkan dana yang akan digunakan untuk penelitian dan pencegahan AIDS. Usaha ini melahirkan “Noel Ensemble” atau “Natal Bersama” yang melibatkan lebih dari 100 artis.

Bandung, 2 November 2016

Luana Yunaneva

Sebelumnya, tulisan ini dipublikasikan pertama kali untuk Kompasiana

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s