Jalani Hobi yang Dibayar bareng Perangkat Canggih, Siapa Takut?

Tidak ada yang lebih menyenangkan selain melakukan hobi, lalu dibayar. Artinya, penghasilan didapatkan berawal dari menekuni hobi atau kegiatan favorit, lalu menjadikannya sebuah profesi. Hobi bisa bermacam-macam, seperti menyanyi, memainkan alat musik, menari dan sebagainya.

Itulah yang saya lakukan selama ini. Menjadikan hobi sebagai ladang penghasilan. Sebab, tak pernah terbayang di benak ketika saya harus mengerjakan suatu pekerjaan atau aktivitas yang tidak saya sukai. Bukankah lebih menyenangkan ketika saya melakukan kegiatan atau pekerjaan yang saya gemari? Saya dapat mengerjakan dengan penuh semangat. Hasilnya tentu sebanding dengan sukacita dalam setiap proses pengerjaannya.

Ketika masih berstatus sebagai mahasiswa, saya tidak menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang) lho, tetapi mahasiswa kura-kura (kuliah-rapat-kuliah-rapat). Ya, singkatan unik itu saya dapatkan dari teman-teman di kampus. Jadi, di luar jam perkuliahan, saya menjadi seorang penyiar yang juga merangkap sebagai event organizer dan mengurus radio management di salah satu radio di Kota Malang, sejak Maret 2009.

37604_1477661098298_1258134_n
ketika saya menjadi penyiar di salah satu radio di Kota Malang (dokpri)

Sebagai penyiar, tentu saya dituntut tampil profesional dengan membawakan program acara dengan baik. Sementara program yang baik dapat dihasilkan dari persiapan yang matang sebelumnya, yakni pembuatan skrip atau naskah siaran. Minimal, beberapa jam sebelumnya saya harus browsing berita terbaru, khususnya seputar dunia pendidikan dan informasi ringan. Kemudian, saya harus mengubah berita yang awalnya menggunakan bahasa cetak itu, menjadi bahasa tutur.

Salah satu tantangan adalah ketika jeda antara jadwal siaran dan kuliah berdekatan. Terkadang saya harus membuat skrip siaran di dalam kelas, di sela-sela dosen yang tengah mengajar. Namun, saya pun tak bisa leluasa mengerjakannya. Saat itu, saya menggunakan laptop sebesar 15,6 inchi. Jadi, saya harus cukup berhati-hati kalau membuat skrip secara diam-diam di dalam ruangan berukuran sekitar 100 meter persegi itu.

Singkat cerita, selepas kuliah, ternyata kecintaan saya terhadap dunia siaran tak berkurang. Saya berkesempatan menjadi salah satu pembawa berita di salah satu radio swasta di Kota Surabaya, Januari 2015. Cocok dengan passion saya yang sejak kecil ingin menjadi pembaca berita.

1974195_10204124887356903_7213759149836490234_o-1
Ketika saya menjadi pembaca berita di salah satu radio berita di Surabaya

Tidak puas menjadi pembaca berita yang berada di sebuah “kotak”, saya mencoba tantangan baru, yakni meliput langsung ke lapangan. Di sinilah, saya bertemu banyak orang yang memiliki berbagai latar belakang. Menurut saya, sayang sekali kalau keberagaman itu tidak diulas menjadi suatu karya. Tak heran, kalau sesudah bertemu orang baru atau menghadiri acara yang menarik, saya “menodong” mereka untuk wawancara.

1455080_10201118502945192_847865746_n
Pengalaman saya mewawancari Konsul Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Joaquin Monserrate, tahun 2013 (dokpri)

Supaya tidak terlalu basi, saya langsung mengerjakannya di tempat. Berhubung saya bekerja di radio, saya membuat ulasan dalam dua versi, yakni untuk radio dan website. Kalau saya ingin langsung mengerjakannya dengan cepat, tentu saya memerlukan perangkat yang mampu mendukung mobilitas tinggi. Saat itu, si laptop jumbolah yang masih setia menemani saya, meski sejujurnya laptop itu sangat berat, hehehe. Namun setidaknya, saya bersyukur karena laptop itu sudah banyak membantu kinerja saya.

WhatsApp Image 2016-11-21 at 00.19.02.jpeg
Saya sedang mengetik berita (dokpri)

Waktu pun menghitung enam tahun perjalanan saya sebagai penyiar radio, yakni sejak Maret 2009 hingga Maret 2015. Kemudian, saya tertantang untuk “banting setir” ke dunia literatur di Bandung, April 2015. perpindahan ini bukan tanpa alasan.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD), saya gemar menulis cerita pendek (cerpen), novel dan puisi. Ketika saya mulai beranjak dewasa, saya suka membaca dan menonton berita. Bagi saya, dunia jurnalistik sangat menyenangkan. Alhasil, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menjadi wartawan sekaligus redaktur majalah.

Meski begitu, bukan berarti saya meninggalkan dunia public speaking sama sekali. Sebuah perguruan tinggi di Kota Bandung memberikan kesempatan untuk mengajar public speaking di salah satu kelasnya.

WhatsApp Image 2016-11-01 at 23.20.17.jpeg
Saya mengajar Public Speaking di salah satu kampusi di Kota Bandung (dokpri)

Dalam beberapa event di kota kembang ini, saya juga mendapatkan kesempatan untuk menjadi master of ceremony (MC). Termasuk pada Kompasianival 2016, ajang kopi darat penulis terbesar di Tanah Air. Saat itu, saya dipercaya menjadi host pada Seminar “Berbagi Inovasi” bersama CEO Indonesia Medika, Bapak dr. Gamal Albinsaid dan Senior Manager Aspek Komunikasi Konsumen PT. Bank Central Asia (BCA), Tbk, Bapak I Ketut Alam Wangsawijaya, serta Mini Talk Show bersama perwakilan Yayasan Maramowe Weiku Komorowe yang merupakan mitra PT. Freeport Indonesia, Lulu Intarti.

14525156_10207532405448746_8810400648340420295_o.jpg
Saya menjadi salah satu host di Kompasianival 2016 (dokpri)

Tak hanya itu, kini saya juga mulai aktif menulis di blog. Selain di blog ini yang tergolong baru, saya juga menulis di Kompasiana.

Profesi berlapis seperti wartawan, penulis, redaktur, praktisi komunikasi dan MC, bagi saya, tak dapat dilepaskan karena semuanya saling berhubungan. Sebuah tulisan tentu tidak akan memiliki kesan mendalam, kalau tidak dibawakan dengan cakap. Begitu juga dengan sebuah program yang tidak akan berisi, kalau tidak ada materi berupa tulisan yang bagus. Diperlukan persiapan maksimal untuk bisa menghasilkan “paket lengkap”itu.

Notebook Switch Alpha 12 keluaran Acer menjadi jawaban atas kebutuhan saya. Hobi sekaligus pekerjaan dapat berjalan bersamaan secara maksimal karena menggunakan prosesor Intel® Core™ generasi keenam. Desain bodi yang tipis dan bobot yang ringan membuat notebook powerful 2in1 ini mudah dibawa ke mana pun.

acer1.png

Bentuknya juga bisa berubah sesuai kebutuhan. Mulai mode notebook maupun tablet. Mode tablet tentu memudahkan saya saat presentasi. Caranya mudah, cukup dengan melepas dan memasang lagi keyboard docking yang sudah dilengkapi engsel magnet. Engsel magnet inilah, saya bisa melepas keyboard Switch Alpha 12 dengan mudah. Juga ada kickstand yang sudutnya bisa diatur sampai 165 derajat, menyesuaikan sudut pandang yang saya butuhkan.

^A11E0B4B42C3B8955024CD209FB073DB7826A13E5F49E94D8F^pimgpsh_fullsize_distr-600x318.png

img4.png

Teknologi LiquidLoop™ juga membuat saya merasa nyaman. Sebab sistem pendingin tersebut bisa membuat suhu mesin notebook tetap stabil, tanpa kipas. Jadi, saya tidak usah khawatir, notebook akan cepat panas dan berisik suaranya, ketika saya sedang asyik menulis. Seru kan?

Sistem pendingin tanpa kipas atau fanless ini juga bermanfaat membuat notebook ini bebas debu. Meski kedengarannya sepele, debu yang menempel pada kipas sebenarnya bisa menyebabkan suhu perangkat panas, kemudian merusak motherboard. Nggak lucu kan, kalau misalnya saya harus menyelesaikan sebuah tulisan yang deadline-nya semakin mepet, tetapi motherboard-nya rusak?

Bagaimana dengan daya tahan baterainya? Tenang saja, teknologi fanless ternyata menghemat daya baterai. Jadi saya bisa tetap menggunakannya dalam waktu yang lama, tanpa khawatir kalau tidak ada colokan listrik di tempat sekitar saya berada.

Ketika saya memerlukan pembuatan ilustrasi untuk presentasi maupun kebutuhan julrnalistik, Switch Alpha 12 dapat memenuhi kebutuhan ini dengan pena digital Active Pen. Fungsinya tidak seperti stylus yang biasa digunakan untuk mencorat-coret layar, tetapi juga juga menuangkan kreativitas. Tebal-tipisnya garis dan sketsa akan terasa karena sensitifitas Stylus mencapai 256 tingkat tekanan.

^10164A33A5C7D3E16B7DF6A1228D999C30FC916CD2C5B6AA7B^pimgpsh_fullsize_distr-600x318.png

Ketika tulisan dan ilustrasi sudah selesai dibuat, file tinggal ditransfer. Kemudahan yang ditawarkan Acer melalui Switch Alpha 12 adalah pengadaan port USB Type-C dengan USB 3.1 gen 1. fasilitas itu membuat saya bisa mendapatkan transfer data berkecepatan hingga 5 Gbps. Kecepatannya 10 kali lipat lebih kencang dibanding USB 2.0. Port ini juga berfungsi sebagai output video dan charger yang dapat mengalirkan hingga 4.5W untuk smartphone.

Jadi, Anda butuh perangkat yang switchable? Acer Switch Alpha 12, jawabannya. Dapatkan segera di Acer Store maupun toko mitra Acer terdekat.

Bandung, 30 November 2016

Luana Yunaneva

Tulisan ini diikutsertakan dalam blog competition Acer

banner.jpg

Advertisements

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s