Pendidikan Dokter Gratis Lahirkan Mentalitas “No Balik Modal”

Pendidikan dokter termasuk salah satu jurusan ‘mahal’ di perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Ayah saya yang dulunya ingin mengambil jurusan ini sebagai pilihan hidup, terpaksa mengubur dalam-dalam impiannya karena tingginya biaya pendidikan. Begitu juga di masa saya beberapa tahun yang lalu, jurusan tersebut masih juga menguras kantong. Beruntung, panggilan saya bukan menjadi dokter maupun tenaga kesehatan sehingga saya tidak perlu merengek-rengek kepada orang tua untuk memasuki bidang ini.

Lain dulu, lain sekarang. Strata Satu (S1) Pendidikan Dokter dan Pendidikan Dokter Spesialis bisa ditempuh secara gratis di Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung mulai Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) tahun akademik 2016/2017. Mengutip http://www.unpad.ac.id, kebijakan tersebut untuk memenuhi kebutuhan tenaga dokter dan dokter spesialis di berbagai daerah, khususnya di Jawa Barat (Jabar).

Rektor Unpad, Prof. Dr. med. Tri Hanggono Achmad mengatakan, jumlah tenaga dokter dan dokter spesialis di Jabar tidak merata lantaran kebanyakan mereka masih terpusat di kota-kota besar. Untuk itu, Unpad berkomitmen membantu pendistribusian tenaga-tenaga tersebut ke seluruh daerah di Jabar. Sekalipun ia juga tidak menutup kemungkinan adanya permintaan dari daerah lain di Indonesia.

Dalam jumpa pers yang digelar di Jalan Dipati Ukur 35, Bandung, Senin 25 Januari 2016, ia menuturkan, Fakultas Kedokteran (FK) Unpad akan menerima 250 calon mahasiswa baru (maba) pada tahun akademik 2016/2017. Rinciannya 125 orang dari jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (BNMPTN) dan 125 orang dari jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Nantinya mereka berhak menerima beasiswa yang dikeluarkan pemerintah daerah (pemda) dari 27 kota/kabupaten di Jabar maupun berbagai pihak, termasuk swasta. Meski berhak atas pendidikan gratis, FK Unpad menetapkan perjanjian antara calon mahasiswa dan kampus. Isinya, mewajibkan para dokter mengabdi di wilayah atau instansi yang ditetapkan, sesudah mereka lulus nanti. Jika tidak, rektor berwenang untuk tidak mengeluarkan ijazah yang bersangkutan.

“Unpad ingin membangun sikap kesiapan mengabdi sungguh-sungguh kepada masyarakatnya, bagi para lulusannya. Jika tidak bersedia memenuhi perjanjian itu, jangan pilih kuliah di Kedokteran Unpad. Ada banyak perguruan tinggi lain yang juga menyediakan pendidikan kedokteran,” tegas Prof. Dr. med. Tri Hanggono Achmad.

Dekan FK Unpad, Dr. Yoni Fuadah Syukriani, dr., M.Si., Sp.F., DFM., menambahkan bahwa program penggratisan biaya kuliah di fakultas yang dipimpinnya ini bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang benar-benar mencintai masyarakat.

Gagasan mulia kampus yang berdiri di Bandung, 11 September 1957 itu juga mendapat apresiasi salah satu alumnus FK Unpad, dr. Hendra Sulaiman. Manajer Pelayanan Medis di Santosa Hospital Bandung Kopo tersebut menilai, program tersebut sangat bagus karena semakin membuka kesempatan para pelajar yang kurang mampu untuk mempelajari bidang medis. Ia yakin, mahasiswa yang lolos merupakan mereka yang berprestasi dan mampu melalui proses seleksi yang ketat, tanpa ‘unsur’ uang.

“Lulusan dokter yang yang tidak bayar ini akan memiliki mentalitas ‘tidak usah balik modal’. Ini berbeda dengan banyak dokter yang merasa sudah bayar mahal kuliah kedokteran. Kebanyakan mereka (yang membayar mahal), biasanya ingin segera balik modal,” jelas dr. Hendra. “Akibatnya, pasien yang jadi korban harus membayar banyak.”

Pria berkacamata ini mengungkapkan, jika para calon dokter yang diterima pernah merasakan kekurangan dan kemiskinan, mereka akan lebih peduli terhadap masyarakat kecil. Pun memiliki empati yang kuat terhadap orang lain yang bernasib sama.

Mengutip Majalah Suara Baptis Edisi IV/2013, orang tua dr. Hendra tidak memiliki uang sepeser pun ketika ia masuk ke FK Unpad. Beruntung, pihak kampus memberikan kesempatan untuk mencicil biaya pendidikan selama beberapa semester. Untuk membiayainya pun, ibundanya, Watem Sulaiman bekerja keras dengan usaha tortila, roti pipih khas Meksiko.

Sukses menyelesaikan studi dan menjadi koas (dokter muda) di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, tidak membuatnya jumawa. Tahun 2009 ketika kebanyakan dokter memilih menjadi Pegawai Tidak Tetap (PTT) di rumah sakit pemerintah, ia memilih cara lain yakni melamar kerja di Rumah Sakit Misi Bethesda Serukam, Bengkayang, Kalimantan Barat. Sebagai dokter misi, ia terlibat dalam pengembangan pelayanan kesehatan di tempat terpencil.

Keputusan menjadi dokter misi tidak semulus bayangan karena ia sempat ditentang kedua orang tuanya. Namun setelah menyadari bahwa melayani masyarakat melalui bidang kesehatan adalah panggilan dr. Hendra, mereka pun akhirnya mendukung. Pengalaman menjadi dokter misi di medan yang sulit mengajarkannya banyak hal terutama menolong orang lain dengan berbagai penyakit. Hidup sederhana dan melayani orang lain juga membuat dr. Hendra merasa bersyukur karena Tuhan masih memberinya kesehatan.

“Meski pun di kota-kota besar banyak tawaran, fasilitas, kenikmatan, dan peluang-peluang untuk menjadi sukses dalam hal finansial, itu nggak ada artinya. Itu bukan hal utama yang perlu dikejar,” ungkap pria yang pernah menjadi Wakil Ketua Akreditasi Rumah Sakit Bethesda Serukam itu.

Saat saya wawancarai, lulusan FK Unpad tahun 2009 itu berharap, program penggratisan biaya kuliah di almamaternya itu akan mendorong pemerataan pembangunan bidang kesehatan di daerah-daerah terpencil. Dengan demikian, pelayanan kesehatan tidak hanya terpusat di kota besar. Seringkali ia merasa kasihan dengan orang-orang tinggal di pedesaan yang tidak mendapatkan perhatian pemerintah perihal masalah kesehatannya.

 

Bandung, 26 Januari 2016

Luana Yunaneva

Sebelumnya tulisan ini saya tulis di Kompasiana

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s