My First Trip to Lembang

 

Kamis, 14 Mei 2015 adalah momen pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Aku pergi ke sana bareng rombongan Gereja Baptis Pertama (GBP) Bandung untuk melakukan ibadah padang, memperingati naiknya Tuhan Yesus ke surga.

Aku naik angkot bareng beberapa anggota gereja. Ada sepasang suami-istri yang membawa anak mereka yang masih kecil, juga beberapa anggota Persekutuan Kaum Muda Baptis (PKMB) seperti Dea, Jeffrey, Ivan (kalau nggak salah), Kharis, dan satu lagi aku juga lupa namanya, hehehe. Kebetulan angkot yang kami naiki berisi sejumlah sound system, peralatan makan, dan hadiah-hadiah untuk games. Meski masih belum begitu kenal dengan mereka, sudahlah aku coba akrab-akrabin aja biar perjalanan dan liburan kali ini terasa menyenangkan. Masa’ lulusan ilmu komunikasi nggak bisa berkomunikasi, kan lucu? Sepanjang perjalanan, yang terpikir di benakku adalah ini seperti film Petualangan Sherina. Film yang diluncurkan tahun 2000 itu disutradarai Riri Riza, serta dibintangi Didi Petet, Mathias Muchus, Ratna Riantiarno, Butet Kertaradjasa, dan Sherina sendiri tentunya. Yang kurang cuma dua, yaitu belum ke Museum Boscha dan makan peuyeum (makanan khas Pasundan yang terbuat dari ketela).

Puji Tuhan, perjalanan tersebut lancar jaya dan hanya butuh waktu sekitar satu jam-an untuk sampai di lokasi. Tidak semacet bayanganku selama beberapa hari terakhir, karena jujur aku lagi malas bermacet-macetan saat liburan. Akhirnya, jreng jreeeeeengggggg, sampailah kami di Lembah Bougenville!!!

Ternyata angkot yang rombongan kami naiki adalah rombongan pertama yang sampai di lokasi. Setelah bantu-bantu dikit, rada bengong juga sich mau ngapain, secara kan aku orang baru di tengah jemaat. Maklum kalau jadinya malah asing, meski sudah berusaha mendekati beberapa orang jemaat untuk diajakin ngobrol. Kebengonganku sedikit terselamatkan sewaktu ketemu Opin, seorang teman Sekolah Minggu di Kelas Pemudi yang kukenal. Lalu kami jalan-jalan sebentar dan mengikuti ibadah.

Setelah ibadah, ada games yang dibagi berdasarkan kelas. Untuk kelas pemuda dengan spesifikasi generasi muda yang kuliah dan bekerja, kami diharuskan bermain sepakbola di lapangan hijau terbuka. Panasnya lumayan dan aku lupa membawa sun zone spray dari Oriflame yang biasa kupakai, sebelum liputan ber-hot-hot (berpanas-panas) *tepokjidat* sehingga aku pun terpaksa memakai jaket. Coba bayangkan main sepakbola, pakai celana jeans dan jaket. Babaknya pun juga cuma ada 3, dengan durasi masing-masing 10 menit. Lucu ya? Iya, karena panitia cuma punya waktu 30 menit sebelum makan siang.

Aku berada di tim kedua. Satu tim terdiri dari 6 orang, alias 3 pasang. Apa maksudnya? Misal, aku kemarin bareng Ci Li (Li-siapa itu aku lupa), nah tangan kiriku diikat dengan tangan kanannya, serta kaki kiriku diikat dengan tangan kanannya. Kami harus kompak supaya bisa memasukkan gol untuk tim. Babak pertama, berakhir dengan skor 0-0.

Babak kedua dilanjutkan dengan aturan tambahan. Masih dengan posisi tangan dan kaki terikat, ditambah dengan salah satu anggota yang matanya ditutup dengan kain. Apesnya, mataku yang ditutup, hahahaha. Rasanya? Jangan tanya, aneh euy, main bola dengan tangan dan kaki terikat, plus mata ditutup. Tangan dan kaki berasa ditarik partner. Belum lagi nggak sengaja kaki menginjak dan terinjak kaki lawan. Tapi anehnya, babak kedua berakhir dengan skor 1-1.

Di babak ketiga kain yang menutup mata sudah boleh dibuka. Tapi orang yang tangan dan kakinya terikat dan tadinya merupakan satu tim, sekarang justru jadi lawan. Belum lagi bolanya makin kecil, ya seukuran bola yang biasa dipakai untuk mandi bola anak-anak kecil di mall. Dengan aturan baru ini, saya melawan Ci Li untuk bisa memasukkan gol. Lumayan susah, karena kami saling berusaha menendang bola dan memasukkan gol ke gawang yang berlawanan. Ci Li berhasil memasukkan bola ke gawang timku.

Ahhh, permainannya sich simple tapi lumayan melelahkan, karena tangan dan kaki harus tarik-tarikandengan partner. Permainan ini mengingatkan tentang pentingnya komunikasi, kebersamaan, dan kekompakan tim untuk meraih tujuan bersama. Ini bisa diterapkan dalam kehidupan bergereja, bahwasanya seluruh jemaat harus bersatu padu dan bersehati untuk memperluas kerajaan Allah, sehingga diharapkan mereka semua bisa mengalah dan tidak mengedepankan ego masing-masing, karena mereka semua sama-sama bertugas mengabarkan Injil.

 Jam makan siang tiba, tet tooootttt… Tapi untuk makan pun juga memang harus antre dengan jemaat lain, khususnya yang sudah tua otomatis didahulukan. Sambil menunggu, aku pun ngobrol banyak hal dengan seorang gadis yang juga dari kelas Pemudi (tuch kan lupa namanya) dan Pdt. Iwan Simbolon, salah satu gembala sidang di GBP.

Sesudah makan, aku pun jalan-jalan bareng Opin dan beberapa teman anggota PKMB di sekitar Lembah Bougenville. Meski baru kenal, kami foto bareng, naik getek di atas kolam pancing ikan, dan yang paling seru adalah capeknya mendaki gunung lewati lembah (kayak soundtrack-nya film Ninja Hatori aja ya, hihihi).

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s